Minggu, 19 Januari 2014

Komunikasi Dalam Manajemen

A.   Definisi Komunikasi
Komunikasi didefinisikan sebagai proses yang dipergunakan oleh manusia untuk mencari kesamaan arti lewat transmisi pesan simbolik. Definisi kita mengenai komunikasi menarik perhatian pada tiga butir penting, yaitu :
1.      Bahwa komunikasi melibatkan orang dan bahwa memahami komunikasi termasuk mencoba memahami cara manusia saling berhubungan.
2.      Bahwa komunikasi termasuk kesamaan arti, yang berarti bahwa agar manusia dapat berkomunikasi, mereka harus menyetujui definisi istilah yang mereka gunakan.
3.      Bahwa komunikasi termasuk symbol gerakan badan, suara, huruf, angka, dan kata hanya dapat mewakili atau mendekati ide yang mereka maksudkan untuk dikomunikasikan.
B.   Proses Komunikasi
Pada umumnya kita sudah mengenal permainan “telepon” yang meminta satu orang membisikan pesan kepada telinga orang yang duduk disebelahnya, yang kemudian membisikan pesan tadi kepada orang berikutnya, dan seterusnya. “Telepon” menggambarkan banyak kompleksitas dalam proses komunikasi. Kita akan menyoroti tiga macam kompleksitas, yaitu :
1.      Penyandian (encoding), penterjemahan informasi menjadi serangkaian symbol untuk komunikasi.
2.      Gangguan dalam saluran komunikasi adalah segala sesuatu yang mengganggu, membingungkan, atau mencampuri komunikasi.
3.      Pengartian (decoding) adalah proses yang dilakukan oleh penerima untuk menginterpretasikan pesan dan penterjemahkan kedalam informasi yang mempunyai arti.
Komunikasi terjadi dalam hubungan antara pengirim dan penerima. Komunikasi dapat mengalir satu arah dan berakhir disana. Atau sebuah pesan dapat menimbulkan respon secara formal dikenal dengan nama umpan balik dari penerima.
C.   Hambatan Komunikasi
Hambatan Komunikasi adalah faktor apapun yang mengganggu, membingungkan, atau mencampuri komunikasi. Hambatan dapat timbul dalam saluran komunikasi, atau metode pengiriman. Hambatan dapat terjadi internal atau eksternal. Hambatan dapat terjadi pada tahap mana pun dari proses komunikasi. Hambatan terutama amat menggangu dalam tahap penyandian dan pengartian.
D.   Definisi Komunikasi Interpersonal Efektif
Komunikasi interpersonal dikatakan efektif apabila memenuhi tiga persyaratan utama, yaitu :
-          Pengertian yang sama terhadap makna pesan indikator  komunikasi dikatakan efektif adalah makna pesan yang dikirim oleh komunikator sama dengan makna pesan yang diterima oleh komunikan.
-          Melaksanakan pesan sukarela
Indikator komunikasi interpersonal yang efektif adalah bahwa komunikasi menindaklanjuti pesan tersebut dengan perbuatan dan dilakukan secara sukarela, tidak karena dipaksa.
-          Meningkatkan kualitas hubungan antar-pribadi
Efektivitas dalam komunikasi interpersonal akan mendorong terjadinya hubungan yang positif terhadap rekan keluarga dan kolega.
E.   Komunikasi Interpersonal Efektif Mencakup :
-         Componential
Saluran formal adalah  saluran yang sudah ditetapkan oleh organisasi. Pesan-pesan mengarah ke dalam tiga arah, yaitu ke bawah,  atas, dan  samping. Pesan-pesan ke bawah terutama berisi informasi yang dibutuhkan bagi staf manapun untuk melaksanakan tugas mereka, seperti kebijakan-kebijakan dan prosedur, perintah dan permintaan yang diturunkan ke tingkat yang tepat dalam jenjang hirarki.
Saluran informal adalah saluran yang terbentuk dari kesamaan kepentingan diantara orang-orang dalam organisasi.
-          Situational
Situational adalah Adanya konteks fisik dan konteks sosial. Lingkungan fisik meliputi objek-objek fisik tertentu. Banyak aspek komunikasi dapat mempengaruhi komunikasi-kenyamanan atau ketidaknyamanan. Kemudian adanya konteks sosial menentukan hubungan sosial antara sumber dan penerima, perbedaan posisi memengaruhi proses komunikasi, dan sering lingkungan fisik menentukan konteks social.





Sumber :
-          Stoner, J. A. F, dkk. (1996). MANAJEMEN Alih bahasa: Drs. Alexander Sindoro. Jilid II. Jakarta: PT Prenhallindo
-          Badrudin, Dr., M.Ag. (2013). Dasar-dasar manajemen. Bandung : Alfabeta
-          Ludlow, R, & Ferguson. (2000). The essence of effective communication (komunikai efektif). Yogyakarta : ANDI Pearson Education Asia Pte. Ltd.

-          Mulyana, D & Jalaluddin R. (1990). Komunikasi antarbudaya. Bandung : PT Remaja Rosdakarya 

Rabu, 30 Oktober 2013

Tulisan Psikologi Manajemen Periode Dua

1.      Pengalaman tentang Actuating
Pada saat saya sekolah di Sekolah Menengah Atas (SMA) saya mengikuti beberapa ekskul salah satunya saya mengikuti ekskul Paskibra. Disana saya diajarkan dan diarahkan kepada hal-hal yang positif seperti hidup yang lebih disiplin dari sebelumnya. Sebelum saya naik kelas 2 SMA saya diberi arahan oleh kakak kelas atau nama lainnya diPaskibra adalah senior, senior-senior saya memberikan arah agar saya dan teman-teman saya nanti bisa menjadi senior yang disegani bukan ditakuti, didengarkan kata-katanya atau perintahnya, menjadi senior yang bijaksana, dan mengarahkan adik kelas atau juniornya kearah yang sudah ada dalam ketentuan diPaskibra itu sendiri.
Setelah saya menjadi senior saya merasa sudah lumayan siap untuk menghadapi junior saya setidaknya saya sudah tahu apa yang harus dilakukan oleh seorang senior kepada juniornya. Hari pertama saya bertemu saya sedikit canggung tapi untungnya saya dibantu juga oleh teman-teman senior yang lainnya, disana kami mulai membagi tugas kami masing-masing sampai hari-hari selanjutnya.
Meskipun saya sudah menjadi alumni, saya masih berkewajiban untuk mengarahkan adik-adik junior saya supaya mereka tidak melewati ketentuan yang ada. Suatu hari saya diundang oleh adik-adik saya untuk mengikuti suatu event yang diadakan oleh mereka disitu saya disuruh menjadi penanggung jawab dari acara itu, sebelum acara dimulai saya memberikan arahan saat apel kepada peserta yang ada dan membacakan apa saja yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukann saat acara berlangsung dengan jelas. Setelah acara selesai dengan sesuai susunan saya menutup acara hari itu.  

2.      Pengalam tentang Controlling
Saat itu H-7 menuju ulang tahun adik saya Vera. Saya merencanakan sebuah pesta ulang tahun yang dia inginkan, saya mencari informasi kepada teman-temannya apa yang dia inginkan dan mengumpulkan informasi-informasi yang saya dapatkan dari teman-temannya dan saya sendiri. Saya memesan kue ulang tahun, melihat-lihat barang yang cocok untuk dijadikan kado untuk adik saya, dan mencari-cari barang dan peralatan yang sekiranya dibutuhkan dalam acara ulangtahun itu.
Setelah semua barang dan peralatan terkumpul saya meminta bantuan kepada keluarga dan teman-teman saya dan teman adik saya. Saya memberikan tugas kepada masing-masing orang untuk dikerjakan, yang tidak mungkin saya kerjakan karena saya sedang menjalankan Ujian Tengah Semester pada saat itu. Saya menelpon dan mengirim pesan kepada orang-orang yang saya beri tugas menanyakan apakah rencana yang sudah saya atur berjalan sesuai rencana atau tidak.

Setelah mendekati hari H saya menanyakan lagi apakah masih ada barang atau peralatan yang masih kurang, kalau memang sudah lengkap semua saya rasa rencana saya  bisa berhasil. Sebelum pulang kerumah saya berdoa semoga rencana yang sudah saya rancang bisa berjalan sesuai dengan apa yang saya harapkan sebelumnya.

Tugas Psikologi Manajemen Periode Dua

A.    Pengorganisasian Struktur Manajemen
1.      Definisi Pengorganisasian
Proses manajerial dari pengorganisasian termasuk pembuatan keputusan mengenai penciptaan kerangka kerja semacam ini sehingga organisasi tersebut dapat bertahan dari keadaan yang baik pada masa kini hingga masa depan. Pengorganisasian adalah salah satu fungsi manajemen yang berkaitan erat dengan perencanaan dan merupakan suatu proses yang dinamis, sedangkan organisasi merupakan alat atau wadah yang statis.
Menurut Malayu S.P. Hasibuan (dalam Badrudin, 2013) Pengorganisasian adalah suatu proses penentuan, pengelompokan , dan pengaturan berbagai macam aktivitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan, menempatkan orang-orang pada setiap aktivitas, menyediakan alat-alat yang diperlukan, menetapkan wewenang yang secara relative didelegasikan kepada setiap individu yang akan melakukan aktivitas-aktivitas tersebut. Sedangkan menurut M. Manullang (dalam Badrudin, 2013) Pengorganisasian merupakan proses penetapan dan pembagian pekerjaan yang akan dilakukan, pembatasan tugas-tugas atau tanggung jawab serta wewenang dan penetapan hubungan-hubungan antara unsur-unsur organisasi, sehingga memungkinkan orang-orang dapat bekerja bersama-sama seefektif mungkin untuk pencapaian tujuan.
2.      Definisi Sturktur Organisasi
Pola hubungan spesifik yang diciptakan manajer dalam proses disebut Struktur Organisasi. Struktur Organisasi adalah suatu kerangka kerja yang dipikirkan oleh manajer untuk membagi-bagi dan mengkoordinasikan aktivitas anggota suatu organisasi. Karena strategi dan lingkungan sekitar berbeda dari suatu organisasi keorganisasi yang lain, terdapat berbagai kemungkinan struktur organisasi.
Dalam setiap kajian mengenai teori organisasi, tidak dapat dipisahkan dari masalah struktur, proses dan perilaku organisasi. Struktur pada dasarnya merupakan cirri organisasi yang berfungsi untuk mengendalikan atau membedakan semua bagiannya. Adanya struktur akan memudahkan organisasi dalam mengendalikan perilaku para pegawai, dalam arti pegawai tidak mampu membuat pilihan yang mutlak bebas dalam melakukan sesuatu pekerjaan dan cara mengerjakannya.
 Berikut ini Robbins (dalam Sedarmayanti, 2000) mengutarakan bahwa sebuah struktur organisasi mempunyai tiga komponen yaitu:
a.  Kompleksitas, mempertimbangkan tingkat deferensiasi yang ada dalam organisasi termasuk didalamnya tingkat spesialisasi atau tingkat pembagian kerja, jumlah tingkatan didalam hierarkhi organisasi serta tingkat sejauhmana unit-unit organisasi tersebar secara geografis.
b.     Formulisasi, beberapa organisasi beroperasi dangan pedoman yang telah distandarkan secara minimum.
c.       Sentralisasi, mempertimbangkan dimana letak dari pusat pengambilan keputusan.
3.      Pengorganisasian Sebagai Fungsi Manajemen
Organisasi menurut fungsi menyatukan semua orang yang terlibat dalam satu aktivitas atau beberapa aktivitas berkaitan yang disebut fungsi dalam satu departemen. Misalnya, sebuah organisasi yang dibagi menurut fungsi mungkin mempunyai departemen manufaktur, pemasaran, dan penjualan yang terpisah. Seorang manajer penjualan dalam organisasi seperti itu akan bertanggung jawab untuk penjualan semua produk yang dibuat oleh perusahaan itu.
Pengorganisasian sebagai fungsi manajeman terbagi menjadi 3 yaitu:
a.       Berdasarkan Proses Pembentukannya
1)   Organisasi Formal adalah organisasi yang dibentuk secara sadar dengan tujuan-tujuan tertentu yang disadari pula yang diatur dengan ketentuan-ketentuan formal dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (ADART).
2)  Organisasi Informal adalah  organisasi yang terbentuk tanpa disadari sepenuhnya, tujuannya juga tidak jelas, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangganya tidak ada dan hubungan-hubungan terjalin secara pribadi.
b.      Berdasarkan Kaitan Hubungannya dengan Pemerintah
1)     Organisasi Resmi adalah organisasi yang dibentuk dengan pemerintah dan atau harus terdaftar pada lembaran Negara.
2) Organisasi tidak Resmi adalah organisasi yang tidak ada hubungannya dengan pemerintah dan atau tidak terdaftar pada lembaran Negara, seperti organisasi-organisasi swasta, mungkin juga organisasi yang dibentuk pemerintah tetapi merupakan unit-unit yang sifatnya swasta.
c.       Berdasarkan Skala (Ukuran) Besar Kecilnya
1)      Organisasi besar
2)      Organisasi sedang (menengah)
3)      Organisasi kecil
Tolak ukur atau skala besar kecilnya organisasi ini sifatnya relatif, karena ditentukan oleh banyak faktor, tetapi besar kecilnya organisasi perlu diketahui karena akan mempengaruhi pilihan manajemen yang akan diterapkan.

B.     Actuating dalam Manajemen
1.      Definisi Actuating
Actuating disebut juga pengarahan yaitu istilah yang sering dikenal sebagai penggerakan atau pengawasan yaitu fungsi manajemen yang terpenting dan paling dominan dalam proses manajemen. Pengarahan dapat diterapkan setelah rencana, organisasi, dan karyawan ada. Jika fungsi ini diterapkan maka proses manajemen dalam realisasi tujuan dimulai. Pengarahan ibarat kunci starter mobil, artinya mobil baru dapat berjalan jika kunci starternya telat dilaksanakan fungsinya. Demikian juga proses manajemen, baru terlaksana setelah fungsi pengarahan diterapkan.
2.      Pentingnya Actuating
a.      Manajer harus memperoleh rasa hormat dari para karyawan. Peranan manajer yang diharapkan karyawan berbeda dari peranan anggota kelompoknya. Manajer harus dapat memberi pengarahan efektif agar dimengerti para karyawan, selain itu manajer memberikan teladan yang baik kepada karyawan agar pelaksanaan tugas oleh karyawan disertai rasa senang mengerjakannya, tidak terbebani oleh tugas yang diberikan manajer.
b.  Manajer lebih banyak mengetahui kebijaksanaan perusahaan, dia lebih dahulu mengetahui perubahan-perubahan yang akan terjadi dan memiliki pengalaman yang lebih luas daripada karyawannya. Manajer juga harus mengetahui siapa yang mendapatkan tugas, siapa yang berhak dipromosikan, siapa yang dipecat, dan siapa yang mendapat kenaikan gaji.
c.   Memberi pengarahan efektif dapat dilaksanakan oleh seorang untuk satu kelompok. Biasanya, manajer yang melaksanakan pengarahan karena manajer mengetahui keahlian dan kemampuan karyawan, mengerti kapasitas dan keinginan karyawan, mengetahui hasil, dan mengamati etos kerja karyawan.
d. Sekali perintah telah dikeluarkan, maka manajer harus melihat apakah perintah tersebut dilaksanakan atau diabaikan. Cara tersebut menunjukan manajemen yang efektif.
e.   Manajer yang mengarahkan karyawan, harus menggunakan instruksi-instruksi yang menunjang pengetahuan aspek untuk melakukan suatu tugas tertentu. Demikian pula, untuk dapat mengikuti tujuan, maka diliput berbagai situasi, diberi data yang dikemukakan urutan langkah-langkah yang harus ditempuh.
3.      Prinsip Actuating
M. Manullang (dalam Badrudin, 2013) mengemukakan prinsip-prinsip yang harus dilaksanakan dalam pengarahan yaitu:
a.       Pengarahan harus jelas
Salah satu kesalahan umum dalam pengarahan adalah anggapan bahwa perintah yang diberikan dari atasan sudah cukup jelas. Hal ini perintah ditidak diberikan secara teratur, diberikan tergesa-gesa atau sambil lewat. Perintah seperti ini umumnya adalah perintah yang diberikan secara lisan. Sedangkan perintah tertulis pada umumnya sudah dipersiapkan terlebih dahulu sehingga perintah tertulis lebih jelas daripada perintah lisan.
b.      Pengarahan diberikan satu per satu
Kesalahan lain yang sering dilakukan pemberian perintah yang terlalu banyak pada saat yang sama sehingga memberikan kesan tidak baik bagi penerima perintah. Perintah harus diberikan satu persatu, bahkan walaupun perintah itu mempunyai pertalian yang erat satu sama lain. Sehubungan dengan hal itu, maka suatu perintah jangan terlalu detail, harus mengandung unsur fleksibilitas dengan maksud agar inisiatif bawahan dapat dihidupkan.
c.       Pengarahan harus positif
Memberikan perintah dengan memulai perkataan “jangan” dapat menimbulkan salah pengertian bagi penerima perintah. Dalam memberikan perintah, baiknya tidak menggunakan perintah yang negatif, lebih baik menggunakan perintah yang positif sebab dengan perintah positif, tegas, dan jelas apa yang harus dikerjakan bawahan.
d.      Pengarahan harus diberikan kepada orang yang tepat
Perintah harus diberikan kepada oorang yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman dibidangnya. kecukupan waktu juga harus diperhitungkan pada tugas yang diberikan pada tugas yang sebelumnya.
e.       Pengarahan harus erat dengan motivasi
Pemberian perintah harus dibarengi pemberian motivasi dalam bentuk material dan immaterial agar bawahan lebih semangat denga pekerjaan yang diberikan. Jika balas jasa yang diberikan hanya material saja, maka aka nada kecenderungan mengendornya semangat kerja bawahan.
f.       Perintah satu aspek berkomunikasi
Perintah merupakan alat komunikasi dari pemimpin kepada bawahan. Sebagai alat komunikasi, pemimpin harus menyusun perintah sedemikian rupa agar berkesan pada bawahannya dan mau mengerjakan perintah tersebut.

C.    Mengendalikan Fungsi Manajemen
1.      Definisi Mengendalikan (Controlling)
Definisi pengendalian menurut Robert J Mokler (dalam Stoner, 1996) adalah usaha sistematis untuk menetapkan standar prestasi kerja dengan tujuan perencanaan, untuk mendesain sistem umpan balik informasi, untuk membandingkan prestasi yang sesungguhnya dengan standar yang telah ditetapkan terlebih dahulu, untuk menetapkan apakah ada deviasi dan untuk ,mengukur signifikansinya, serta mengambil tindakan yang diperlukan untuk memastikan bahwa semua sumber daya perusahaan digunakan dengan cara yang seefektif dan seefisien mungkin untuk mencapai tujuan perusahaan.
Definisi pengendalian juga dapat diartikan proses untuk memastikan bahwa aktivitas sebenarnya sesuai dengan aktivitas yang direncanakan. Sebenarnya, pengendalian lebih mudah tersebar daripada perencanaan. Pengendalian membantu manajer memonitor keefektifan aktivitas perencanaan, pengorganisasian, dan kepemimpinan mereka. Bagian penting dari pengendalian adalah mengambil tindakan korektif seperti yang diperlukan.
2.      Tipe-tipe Kontrol
Mamduh M. Hanafi (dalam Badrudin, 2013) mengemukakan tiga tipe dasar pengendalian yaitu:
a.  Pengendalian Pendahuluan didesain untuk mendeteksi penyimpangan dari standar tertentu. pengendalian ini merupakan pengendalian yang cukup agresif dan memerlukan informasi yang akurat dan tepat waktu mengenai perubahan-perubahan dalam lingkungan atau kemajuan-kemajuan dalam mencapai tujuan tertentu.
b. Pengendalian Concurrent (yes/no). Tipe pengendalian ini dilakukan saat kegiatan masih berlangsung. Tipe ini merupakan pengendalian ketika suatu kegiatan akan terus dilanjutkan atau tidak apabila ada persetujuan atau kondisi yang harus dipenuhi. Tipe pengendalian ini tidak sepopuler tipe pngendalian pendahuluan tetapi tipe ini bisa dipakai sebagai pelengkap dan digunakan bersamaan dengan pengendalian pendahuluan.
c.      Pengendalian umpan balik (post-action control). Pengendalian ini mengevaluasi hasil-hasil  yang telah terjadi saat suatu kegiatan sudah selesei. Pengendalian umpan balik kadang-kadang diperlukan untuk tujuan lain, misalnya untuk penentuan bonus dan biasanya dipakai untuk memotivasi karyawan.
3.      Kontrol Proses Manajemen
Definisi Mokler (dalam Stoner, 1996) membagi pengendalian menjadi empat proses yaitu:
a.    Menetapkan standard dan metode mengukur prestasi kerja. Idealnya, sasaran dan tujuan yang ditetapkan ketika berlangusng proses perencanaan dinyatakan dalam istilah yang jelas, dapat diukur termasuk batas waktunya.
b.    Pengukuran prestasi kerja. Seperti semua aspek pengendalian, pengukuran adalah proses yang berulang-ulang dan berlangsung terus menerus. Frekuensi pengukuran tergantung pada tipe aktivitas yang diukur.
c.  Menetapkan apakah prestasi kerja sesuai dengan standar. Dalam berbagai cara, ini adalah langkah termudah dalam proses pengendalian. Kompleksitas dianggap sudah ditangani dalam dua langkah pertama. Sekarang masalahnya hanya membandingkan hasil pengukuran dengan target atau standar yang telah ditetapkan.
d.   Mengambil tindakan korektif. Langkah ini penting bila prestasi lebih rendah dari standar dan analisis menunjukkan ada tindakan yang diperlukan. Tindakan korektif dapat termasuk perubahan dalam satu atau beberapa aktivitas operasi organisasi.




Sumber :
Badrudin. (2013). Dasar-Dasar Manajemen. Bandung: Alfabeta

Sedarmayanti. (2000). Restrukturisasi Dan Pemberdayaan Organisasi Untuk Menghadapi Dinamika Perubahan Lingkungan Ditinjau Dari Beberapa Aspek Esensial Dan Aktual. Bandung: Mandar Maju


Stoner, J. A. F, dkk. (1996). MANAJEMEN Alih bahasa: Drs. Alexander Sindoro. Jilid II. Jakarta: PT Prenhallindo

Kamis, 10 Oktober 2013

Contoh kasus

1.   Pengalaman Tentang Manajemen
Pengalaman tentang manajemen terjadi saat saya harus memanajemen uang saku saya. Disisi lain saya ingin membeli suatu barang yang saya inginkan tetapi disisi lain saya ingin menabungkan uang yang telah orangtua saya berikan kepada saya. Akhirnya saya membeli barang yang memang dibutuhkan oleh saya dan sisa dari uang saya tabungkan.
2.   Pengalaman Tentang Manajemen

Pengalaman saya yang lain tentang memanajemen diri saya yaitu terjadi 2 tahun yang lalu pada saat saya akan mengikuti Ujian Nasional (UN). Mendekati ujian saya membuat suatu jadwal untuk belajar yang lebih dibanding ujian-ujian sebelumnya saya mengikuti bimbel diluar sekolah dan pelajaran tambahan yang dijadwalkan oleh sekolah untuk siswa-siswi kelas 3 pada saat itu. Saya menambah waktu belajar saya karena saya ingin mendapatkan nilai yang memuaskan untuk saya sendiri dan masuk Universitas dan Fakultas yang saya inginkan. Setelah saya membuat jadwal saya mengikuti jadwal itu sesuai dengan apa yang telah saya buat sebelumnya sampai hari-hari mendekati Ujian.

Manajemen, Perencanaan & Penetapan Manajemen

I. Manajemen
1.   Pengertian Manajemen
Manajemen adalah suatu proses untuk merencanakan, mengorganisasi, memimpin, dan mengendalikan secara sadar dan terus menerus untuk mencapai suatu tujuan yang sudah dibuat sebelumnya.
2.   Jenis – Jenis Manajemen
Beberapa jenis manajemen yaitu :
a.     Manajemen Sumber Daya Manusia
b.     Manajemen Pemasaran
c.      Manajemen Produksi
d.     Manajemen Keuangan
e.      Manajemen Informasi
f.       Manajemen Stragesi
g.     Manajemen Operasi
3.   Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah suatu proses mengendalikan, mengarahkan, dan mempengaruhi suatu aktivitas anggotanya.

II. Perencanaan dan Penetapan Manajemen
1.   Pengertian Perencanaan
Perencanaan adalah suatu keputusan yang diambil untuk merealisasikan suatu tujuan yang lebih spesifik yang diinginkan oleh manajer bagi organisasinya.
2.   Manfaat Perencanaan
a.     Untuk merealisasikan suatu tujuan yang lebih spesifik
b.     Meminimalisir waktu, tenaga, dan biaya
c.      Meminimalisir pekerjaan yang tidak penting
d.     Manajer mengetahui apa sajakah yang harus dikerjakan
3.   Jenis Perencanaan Dalam Organisasi
a.     Perencanaan Strategis
Perencanaan Strategis adalah rencana yang dibuat untuk memenuhi tujuan organisasi yang lebih luas atau umum.
b.     Perencanaan Operasional
Perencanaan Operasional adalah rencana yang dibuat yang lebih mendetail tentang kebutuhan yang akan digabungkan oleh strategi untuk kehidupan sehari – hari.


Sumber :
-         Stoner, F. A. James. & Freeman, Edward R. & Gilbert, Daniel R, Jr. 1996. Manajemen jilid 1. Jakarta : PT Bhuana Ilmu Populer.

-         Stoner, F. A. James. & Freeman, Edward R. & Gilbert, Daniel R, Jr. 1996. Manajemen jilid 2. Jakarta : PT Bhuana Ilmu Populer.